Hidayah Lambat Karena Adat

Allah tidak pernah terlambat memberikan hidayah. Allah Mahatahu, kapan waktu yang paling tepat untuk menurunkannya. Sebagaimana Allah juga Mahatahu, siapa yang layak didahulukan atau diakhirkan hidayahnya, atau bahkan yang tidak layak memperolah secercahpun hidayah dari-Nya.

Jikalau ada yang diperlambat datangnya hidayah, bukan karena Dia kikir atau pelit, sungguh Dia Maha Penyayang lagi Maha Pemurah. Keterlambatan, atau bahkan terhalangya seseorang dari hidayah itu disebabkan oleh ulah dan sikap manusia dalam menerima dan menyambutnya. Atau dominasi hawa nafsu yang menguasai diri, sehingga menampik datangnya hidayah. Baik hidayah Islam secara global, ataupun hidayah *tafshil* (yang rinci), berupa menjalankan berbagai perintah, dan menjauhi segala hal yang dilarang oleh Allah.

Adat, Hambatan Paling Berat

Saat cahaya Islam pertama kali menyapa kaum Arab Quraisy, tak serta merta disambut dengan gegap gempita. Bahkan lebih banyak penentang katimbang pendukungnya. Alasan paling populer dari para penentang adalah, karena Islam tak sejalan dengan adat dan agama nenek moyang mereka.

Taklid kepada leluhur lebih mereka utamakan dari ajakan Allah dan Rasul-Nya, meskipun hati kecil mereka meyakininya. Tak ada penghalang yang lebih berat bagi Abu Abu Thalib, paman Nabi shalallahu alaihi wassalam, selain beban untuk berpegang kepada agama leluhurnya. Adalah Abu Jahal yang memprovokasi
Abu Thalib di ujung hayatnya. Dia membujuk, “Apakah engkau hendak meninggalkan agama Abdul Muthallib?” Hingga akhirnya Abu Thalib mati dalam keadaan musyrik. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh al­Baihaqi, sebelum meninggal, dia mengulang­ulang sya’irnya,

Aku tahu bahwa agama Muhammad terbaik bagi manusia

Kalau saja bukan karena agama nenek moyang yang dicela

Niscaya engkau dapatkan aku menerima dengan sukarela

Sikap ini mewakili sekian banyak orang yang menampik hidayah, juga enggan untuk tunduk terhadap titah Allah dan Rasul-Nya. Karakter para penentang ini dikisahkan dalam firman-Nya,

“Apabila dikatakan kepada mereka:”Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab:”Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. (QS. Al Maidah:104)

Ketika mereka diajak menjalankan agama Allah dan syariatnya, menjalankan kewajiban dan apa yang diharamkannya, mereka menjawab, “cukup bagi kami mengikuti cara dan jalan yang telah ditempuh oleh bapak dan kakek kami.” Demikian dijelaskan tafsirnya oleh Ibnu Katsier.

Seakan al-Qur’an masih hangat turun ke bumi. Betapa alasan ini sangat populer kita dapati. Tatkala didatangkan dalil dari al-Qur’an maupun as-Sunnah, baik tentang larangan yang tak boleh dijamah, atau perintah yang mesti dilakukan, seringkali kandas ketika dalil itu tak sejalan dengan kebiasaan yang telah berjalan.

“Jangan merubah adat … !

Ini sudah tradisi para leluhur .. !

Biasanya memang begini … !”

dan ungkapan lain yang mengindikasikan ketidakrelaan mereka jika adat diganti dengan syariat. Ungkapan seperti ini tak jarang muncul dari lisan orang yang telah menyatakan dirinya Islam, yang telah mengikrarkan bahwa ia
rela Allah sebagai Rabbnya, Muhammad sebagai Nabi dan Rasul, dan Islam sebagai agamanya. Tapi begitu syariat tidak sejalan dengan adat, adat lebih mereka utamakan.

Sejenak kita akan tahu bahwa, masih banyak warisan adat leluhur yang temyata bertentangan dengan syariat, bahkan jika dirunut, tak hanya warisan nenek moyang masyarakat Indonesia, tapi warisan penyembah berhala di era jahiliyah Arab.

Kesesatan yang Dilestarikan

Atas nama melanggengkan nilai­-nilai luhur tradisi nenek moyang, budaya sesaji masih tetap lestari. Dari yang hanya sekedar mempersembahkan menu ‘wajib’ berupa hewan sembelihan, maupun yang berupa kemenyan, buah-buahan dan ‘tetek bengek’ lain sebagai menu tambahan. Semua itu ditujukan kepada sesuatu yang diagungkan, apakah jin penunggu, arwah leluhur atau dewa yang diyakini keberadaannya.

Tradisi ini mengiringi momen-momen penting dalam kehidupan manusia, seperti peringatan kelahiran, kematian, upacara pernikahan, peresmian gedung atau jembatan, peringatan hari besar, juga untuk tujuan insidental seperti
mencegah terjadinya marabahaya. Tak ketinggalan pula masyarakat kita yang mengaku dirinya muslim. Mereka turut membudayakannya dengan sedikit modifikasi dan dikemas dengan simbol­-simbol Islam.

Sulit untuk mendapatkan jawaban yang memuaskan, sejak kapan tradisi sesaji bermula di negeri ini. Paling­-paling kita harus puas dengan jawaban, “itu sudah menjadi adat nenek moyang sejak dahulu.”

Jika ditelisik, sesaji tak hanya menjadi tradisi Hindu atau penganut animisme maupun dinamisme di Indonesia saja. Tapi juga merupakan adat jahiliyah Arab, yang kemudian disapu bersih dengan hadirnya Islam. Ini terlihat dari banyaknya ayat dan hadits yang melarang sembelihan untuk selain Allah, juga ancaman bagi yang melakukannya.

Dahulu, orang biasa Arab biasa menyembelih hewan di sisi kuburan, lalu Islam melarangnya. Sebagaimana hadits Nabi shalallahu alaihi wassalam,

“Tidak boleh ada ‘aqr (menyembelih di kuburan) dalam Islam.” (HR. Abu Dawud)

Abdurrazzaq yang meriwayatkan hadits tersebut berkata; dahulu mereka menyembelih sapi atau kambing di kuburan. Dengan alasan mengikuti adat, tradisi itupun masih dilestarikan dengan istilah bedah bumi (‘meminta ijin’ untuk menggali liang kuburan), atau sebagai penghormatan kepada orang yang telah mati.

Padahal secara tegas Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda,

“Dan Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah.” (HR. Muslim)

Jimat untuk kesaktian dan penangkal bahaya, juga menjadi warisan orang musyrik terdahulu. Suatu kali, sahabat Hudzaifah bin Yaman menengok orang sakit. Beliau melihat di lengan si sakit ada gelang (untuk jimat).Maka beliau langsung melepasnya sembari membaca firman Allah, “Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” (QS.Yusuf: 106)

Bukankah praktik ini sering kita jumpai dalam bentuk rajah di pintu rumah, di warung, kendaraan, atau jimat lain berupa gelang, kalung atau cincin yang dianggap memiliki khasiat bisa mendatangkan manfaat dan mencegah madharat. Inilah keyakinan syirik warisan jahiliyah, di mana Islam datang untuk membersihkan dan menghilangkannya.

Belum lagi berbagai keyakinan khurafat yang masih subur dan diwariskan turun temurun.

Meninggalkan Adat Demi Syariat

Ajaran tauhid mengharuskan penganutnya bersih dari syirik, meski itu berupa adat yang mendarah daging dan mengakar kuat. Wajar, jika dakwah Nabi shalallahu alaihi wassalam oleh orang Arab diidentikkan dengan dakwah untuk meninggalkan adat nenek moyang.

Heraklius, Kaisar Romawi yang beragama Nasrani pemah bertanya kepada Abu Sufyan saat masih musyrik, “Apa yang Muhammad shalallahu alaihi wassalam serukan atas kalian?” Abu Sufyan menjawab,

“Dia (Muhammad mengatakan, “Hendaklah kalian hanya beribadah kepada Allah saia, tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu, dan hendaknya kalian meninggalkan pendapat nenek moyang kalian, dia juga menyuruh kami shalat, berlaku jujur, menjaga kehormatan dan menjalin persaudaraan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Menyelisihi kebiasaan nenek moyang bukanlah cela. Melanggar adat tak juga membuat kita kualat. Bahkan orang yang kualat dan mendapat ganjaran berupa siksa yang berat adalah mereka yang mempelopori adat yang sesat, juga para pengikutnya di dunia.

Di dalam hadits Bukhari, Nabi shalallahu alaihi wassalam juga bersabda,

“Aku mengetahui, siapakah orang pertama yang merubah ajaran (tauhid) Ibrahim Para sahabat bertanya, “Siapakah dia wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Dia adalah Amru bin Luhay, saudara Bani Ka’ab. Aku melihatnya dia menyeret usus-ususnya di neraka, hingga penduduk neraka yang lain terganggu oleh bau busuknya.” (HR. Bukhari)

Begitulah ganjaran bagi orang yang membawa berhala ke negeri Arab, yang tadinya telah dibersihkan oleh kapak dan dakwah tauhid Ibrahim Apakah kita tetap akan membanggakan para leluhur meski memiliki kemiripan dengan Amru bin Luhay?

Teladanilah sikap yang diambil oleh seorang tabi’in, Syuraih al-Qadhi ketika beliau ditanya, “Dari kaum manakah Anda?” Beliau menjawab, “Dari kaum yang Allah telah karuniakan Islam atasnya. Sedangkan orangtuaku dari Kindah.”
Beliau lebih suka menisbahkan dirinya kepada Islam, ketimbang membanggakan sukunya.

Karena beliau tahu, suku atau keturunan siapa tak akan membuatnya mulia atau hina, tidak pula menolongnya kelak di akhirat. Nenek moyang tak mampu menyediakan surga baginya, bahkan, jika mereka sesat, mereka sendiri dalam
keadaan hina. Simaklah kabar Nabi shalallahu alaihi wassalam, tentang mereka,

Maka, hendaklah orang-orang meninggalkan kebanggaan mereka terhadap kaumnya; sebab mereka hanya (akan) menjadi arang jahannam, atau di sisi Allah mereka akan menjadi lebih hina dari ji’lan (kumbang kotoran) yang mendorong kotoran dengan hidungnya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Memang, tak semua adat itu sesat, sehingga wajib kita mengukurnya dengan barometer syariat. Jika memang bertentangan, jangan ragu meningalkannya, demi merealisasikan ajaran Islam yang hanif. (Abu Umar Abdillah)

Sumber : ar-risalah No. 112/Vol. X/ 04 Syawal – Dzulqa’dah 1431 H

Iklan
Ditulis dalam Dakwah. Leave a Comment »

Muslim












Ditulis dalam Dakwah. Leave a Comment »

Understanding Islam 4 dummies

Ditulis dalam Dakwah. Leave a Comment »

Reminder : Ramadhan

Kisah “Ruh Saat Keluar dari Jasad dan Peristiwa yang Dialaminya” berdasarkan hadist yang diterjemahkan ulang oleh Ust.Zubeir S.Abdullah LC.

Sahabat Al-barra’ Ibnu ‘Azib menuturkan:
“Suatau hari kami keluar bersama Rasulullah dalam acara pemakaman salah seorang sahabat Anshor.Ketika kami telah sampai pemakaman, saat itu liang lahat sedang digali. Rasulullah duduk lalu kamipun duduk mengelilingi beliau, dan seolah-olah di atas kepala kami ada burung (ini adalah kiasan, bahwa para sahabat begitu serius mendengar Rasulullah sedang bersabda).Sedang ditangan beliau ada sebatang kayu yang beliau pukul-pukulkan ke tanah.Lalu beliau memandang ke langit lalu ke bumi,beliau mengangkat dan menundukkan pandangannya sampai tiga kali, kemudian belaiu bersabda:

:Mohonlah kalian perlindungan kepada Allah dari adzab kubur, beliau ulangi dua atau tiga kali. Kemudian beliau bersabda:”Sesungguhnya seorang hamba yang beriman pada saat meninggal dunia dan menuju akhirat, maka para malaikat dari langit akan turun kepadanya.Para malaikat tersebut putih wajahnya, seolah-olah ada sinar matahari di wajah mereka.Mereka membawa kain kafan dari kain kafan surga,mereka juga membawa obat pengawet mayat dari surga.Lalu para malaikat tersebut duduk sejauh mata memandang dari orang yang akan meninggal tersebut.Lalu datanglah malaikat maut, kemudian duduk di dekat kepalanya dan berkata:”Wahai jiwa yang baik (dalam riwayat yang lain:jiwa yang tenang), keluarlah kamu untuk mendapat ampunan Allah dan keridhaan-Nya”.Maka ruh orang mu’min tersebut keluar dengan tenang seperti embun yang mengalir dari tempat air (yang terbuat dari kulit), lalu malaikat maut menyambut dan mengambilnya, (dalam sebuah riwayat yang lain:ketika ruh orang mu’min itu keluar, seluruh malaikat yang ada diantara langit dan bumi mendo’akannya,lalu dibukakan pintu-pintu langit.Tidak ada seorangpun malaikat penjaga pintu-pintu itu kecuali mereka mohon kepada Allah agar ruhnya melewati meraka).Jika malaikat maut telah mengambil ruhnya, maka para malaikat tersebut tidak membiarkannya sekejap matapun melainkan mereka segera mengambil dan meletakkannya di kain kafan dan obat pengawet tersebut. Itulah yang dimaksud firman Allah Ta’ala:

“Utusan-utusan Kami telah mewafatkannya, sedang utusan-utusan Kami tidak akan menyia-nyiakannya” (QS.Al-An’am 6:61). Dan keluarlah ruh dari jasadnya dengan bau yang harum, lebih wangi dari minyak kasturi yang ada di permukaan bumi ini.Beliau bersabda:”Lalu mereka membawanya naik dan mereka tidak melewati para malaikat kecuali mereka semua mengatakan “Ruh siapakah yang baik ini? Maka para malaikat yang membawanya menjawab: “Ini ruhnya si Fulan bin Fulan”. Mereka menamainya dengan sebaik-baik nama panggilannya sewaktu di dunia, sehingga mereka sampai ke langit dunia (langit yang paling bawah).Lalu mereka minta dibukakan untuknya, maka dibukakanlah langit untuknya. Maka semua malaikat muqorrobin yang ada di langit tersebut menyebarkannya ke langit berikutnya, sehingga sampai langit ke tujuh, lalu Allah ‘Azza wa Jallah berfirman: Tulislah kitab hamba Ku di dalam ‘illiyyin. Firman allah Ta’ala : “Tahukah kamu apakah ‘illyyin itu?(yaitu) kitab yang bertulis, yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang didekatkan (Kepada Allah)”.(QS.Al Muthaffifin 83:19-20).

Lalu dituli kitabnya di ‘illiyyin, kemudian dikatakan:bawalah dia kembali ke bumi, karena Aku telah berjanji, bahwa dari padanya Aku ciptakan, dan kepadanya Aku kembalikan, dan dari padanya Aku bangkitkan untuk kedua kalinya.”
Rasulullah melanjutkan sabdanya: Lalu dibawalah ia kembali ke bumi dan kemudian ruhnya di kembalikan ke jasadnya. Beliau bersabda lagi :”Sesungguhnya ia mendengar suara sandal orang-orang yang meninggalkan mayat di kuburnya. Kemudian datanglah dua malaikat yang sangat keras bentakannya, lalu dua malaikat tersebut berkata kepadanya dengan suara yang menghentak dan mendudukkannya, mereka bertanya kepadanya: Siapa Tuhanmu?maka jawabnya, Tuhanku ialah Allah. Mereka bertanya lagi, Apa agamamu? Ia menjawab:Agamaku Islam. Mereka bertanya lagi, siapa laki-laki yang diutus kepadamu? Maka ia menjawab: Dia adalah Rasulullah. Mereka bertanya lagi: Apa ilmumu? Ia menjawab, aku membaca Kitab Allah, lalu aku beriman dan membenarkannya. Maka malaikat itupun membentakknya dan berkata: Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Siapa Nabimu? Inilah ujian terakhir bagi seorang mukmin. Inilah maksud dari firman Allah: “Maka Allah meneguhkan pendirian orang-orang yang beriman dengan perkataan yang teguh di dalam kehidupan dunia”.(QS.Ibrahim 14:27).

Lalu ia berkata: Tuhanku Allah, agamaku Islam, dan nabiku adalah Muhammad. Kemudian ada yang memanggil dari langit, “Sungguh hamba Ku berkata benar, maka hamparkanlah tempat tidurnya dari surga dan pakain baju dari surga, serta bukakanlah baginya satu pintu dari surga, sehingga bau harumnya sampai kepadanya. Maka datanglah seorang laki-laki yang menghibur dan baik kepadanya, kemudian melapangkan kuburnya sejauh mata memandang.

Beliau bersabda :”Dan ia didatangi (dalam jilmaan) seorang laki-laki yang tampan wajahnya, bagus bajunya dan wangi bau badannya, lalu berkata :”Aku akan memberi khabar gembira kepadamu dengan keridhaan Allah Ta’ala dan surga Nya yang di dalamnya terdapat berbagai kenikmatan yang kekal. Inilah hari yang dijanjikan untukmu. Lalu ia berkata: “Dan engkau pun telah diberi khabar gembira oleh Allah.” Siapa engkau? Wajahmu menampakkan engkau adalah orang yang gemar berbuat kebaikan. Maka orang tersebut berkata :”Aku adalah amal kebaikanmu, demi Allah, aku tidak mengenalmu kecuali engkau adalah orang yang cepat melaksanakan perintah Allah Ta’ala, lambat dalam bermaksiat kepada Allah, maka Allah membalasmu dengan kebaikan.Kemudian orang tersebut membukakan untuknya pintu dari surga dan pintu dari neraka, lalu ia berkata: “Inilah tempat tinggalmu jika kamu dahulu durhaka kepada Allah, maka Allah akan menggantikan (neraka) ini untukmu. Maka ketika ia melihat apa yang ada di surga ia pun berkata:”Ya Allah segerakanlah datangnya hari kiamat, agar aku kembali lagi kepada keluargaku dan hartaku. Maka dikatakan kepadanya:”Tenanglah kamu disini”.

Belia melanjutkan sabdanya:”Dan sesungguhnya seorang hamba yang kafir (dalam satu riwayat orang yang durhaka ) jika ia telah meninggalkan dunia ini dan menuju akhirat, maka turunlah para malaikat yang kasar dan keras, berwajah hitam pekat dari langit kepadanya dengan memebawa kain yang kasar dari neraka, lalu mereka duduk sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut lalu duduk di dekat kepalanya dan berkata :”Keluarlah kamu menuju murka dan kemarahan Allah”. Beliau bersabda:”Maka tercerai berailah ruhnya dalam jasadnya, lalu malaikat maut mencabutnya seperti Sufud (besi yang bergerigi yang biasa untuk membekar daging) dicabut dari bulu yang basah (sehingga terputuslah urat nadi dan urat sarafnya). (Maka seluruh malaikat yang berada di antara langit dan bumi serta para malaikat di langit melaknatinya.Kemudian pintu-pintu langit ditutup. Tidak ada satupun penjaga pintu-pintu itu melainkan mereka berdo’a kepada Allah Ta’ala agar ruhnya orang yang durhaka itu tidak melewati mereka). Maka malaikat maut mengambilnya. Dan apabila telah mengambilnya, maka mereka tidak membiarkannya sekejap matapun ditangannya sehingga mereka meletakkannya di dalam kain yang kasar tersebut. Dan keluarlah dari ruh tersebut bau yang paling busuk yang pernah ada di permukaan bumi. Merekapun membawanya naik. Mereka tidak melewati para malaikat melainkan mereka mengatakan:”Ruh siapakah yang busuk ini? Mereka menjawab:”Ini ruhnya si Fulan bin Fulan,mereka memanggilnya dengan nama yang terjelek ketika masih berada di dunia hingga sampai di langit dunia (langit pertama).Lalu mereka minta dibukakan untuknya, maka tidak dibukakan langit tersebut. Kemudia Rasulullah membaca ayat “Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum”. (QS.Al-A’raf 7:40).

Maka Allah Ta’ala berfirman:”Tulislah kitabnya dalam sijjin, di bumi yang paling bawah. Kemudian dikatakan:”Bawalah ia kembali ke bumi,karena Aku telah berjanji, bahwa dari bumi Aku ciptakan, dan ke bumi Aku kembalikan dan dari padanya kelak Aku bangkitkan mereka kembali untuk kedua kalinya. Maka dilemparlah ruhnya dari langit sehingga kembali ke jasadnya. Lalu Rasulullah membaca ayat:”Dan barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah,maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung atau diterbangkan angina ke tempat yang jauh.”(QS.Al-Haj 22:31).

Kemudian ruhnya dikembalikan ke jasadnya.Nabi bersabda:”Sesunguhnya ia mendengar derap langkah sandal orang yang meninggalkan kuburnya. Kemudian datanglah dua malaikat kepadanya (yang sangat keras bentakannya, lalu dua malaikat tersebut berkata kepadanya dengan suara menghentak) dan mendudukkannya, mereka berkata kepadanya:” Siapa Tuhanmu? Lalu ian menjawab:”Hah…hah…aku tidak tau”.Mereka bertanya lagi:”Apa agamamu? Ia menjawab: Hah…hah…aku tidak tau”.Mereka bertanya lagi:Apa yang kamu ketahui tentang seorang laki-laki yang diutus kepadamu? Ia tidak tau namanya, lalu dikatakan kepadanya:”Namanya Muhammad”. Ia menjawab aku tidak tau, aku pernah mendengar orang-orang menyebut nama itu.

Nabi bersabda :”Lalu dikatakan kepadanya, “Kamu tidak tau dan tidak pula mau belajar” Maka ada suara memanggil dari arah langit:”Sungguh ia telah berbuat dusta, maka gelarkanlah untuknya tepat tidur dari neraka dan bukakanlah pintu dari neraka, sehingga hembusan angina panas neraka sampai kepadanya.Kemudian kuburnya menjadi sempit, sehingga remuk tulang-tulang rusuknya. Maka datanglah seorang laki-laki (dalam satu riwayat:dalam bentuk jelmaan manusia) yang amat buruk rupanya, teramat jelek bajunya dan teramat busuk bau badannya.Lalu orang tersebut berkata:”Aku memebri khabar buruk kepadamu.Inilah hari yang dijanjikan kepadamu, maka dikatakan kepadanya:”Dan kamu juga akan diberi khabar buruk oleh Allah. (Ia bertanya) siapakah engkau?Wajahmu adalah wajah orang yang suka berbuat kejahatan.

Lalu orang tersebut berkata:”Akulah amal burukmu, demi Allah aku tidak mengenalmu kecuali engkau selalu lambat dalam menjalankan perintah Allah dan cepat dalam melakukan maksiat kepada Allah, sehingga Allah membalasmu dnegan keburukan.Kemudian didatangkan kpdnya orang yang buta dan tuli serta bisu yang ditangnnya ada palu gada. Kalau sekiranya palu gada tersebut dihantamkan ke gunung, niscaya gunung tersebut akan hancur menjad debu. Kemudian orang tersebut memukulnya dengan palu gada tersebut, maka hancurlah ia jadi debu. Kemudian Allah mengembalikan lagi seprti sedia kala. Lalu dipukul lagi, keudian dia berteriak dengan teriakan yang didengar oleh semua makhluk kecuali jin dan manusia.Kemudian dibukakan baginya pintu neraka, dan disiapkan hamparan dari neraka.Maka ia pun berkata:”Ya Tuhanku, janganlah Engkau datangkan kiamat.

Hadis ini dinukil dari kitab:
1.Ahkamu al-janaiz wa bida’uha oleh Muhamad Nashiruddin albani.Hadis riwayat: Abu Dawud;Al-Hakim;Ath-Thayalisi:Ahmad:Nasai:Ibnu Majah.
2.Al-Musnadu Al-Jami’u
3.Ahadist hayatil Barzahi fil kutubit-tis’ati oleh Dr.Muhammad bin haidar bin mahdi bin hasan disertasi doctoral di Universitas Ummu Dirman Al-islamiyah sudan.

Alih Bahasa :Ust Zubeir S.Abdullah Lc.

Ditulis dalam Dakwah. Leave a Comment »

DAN KAMU SENDIRI SIAPA??

Sanduran dari :
http://ponirah.multiply.com/journal/item/116

—————————————————-

Aku-lah petualang yang mencari kebenaran. Aku-lah manusia yang mencari makna dan hakikat kemanusiaan. Aku-lah patriot yang berjuang menegakkan kehormatan, kebebasan, ketenangan dan kehidupan yang baik bagi tanah air di bawah naungan islam yang hanif. Aku-lah lelaki bebas yang telah mengetahui rahasia wujud ’NYA’. Maka akupun berseru” Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Robb Semesta Alam yang tiada sekutu bagiNya, Kepada yang demikian itulah aku diperintahkan dan aku termasuk orang yang berserah diri”.

INILAH AKU!!!

DAN KAMU ??? KAMU SENDIRI SIAPA ???

(HASAN AL-BANNA)

Pernah gak membaca tulisan di atas sebelum ini? Kalo aku, aku sudah membacanya berkali2. Dan entah kenapa setiap membacanya, aku merasa tertantang atau tepatnya merasa tersindir. Ketika ditanya tentang Aku, Aku ini siapa??? Aku tersentak! “Ah, aku memang bukan siapa-siapa”Jawabku minder. Ya, aku memang bukan siapa2, tidak ada sesuatu yang istimewa melekat pada diriku. Tidak ada kepribadian yang terlalu menonjol dalam karakterku. Tidak ada prestasi yang gemilang yang ku raih, apalagi kedudukan yang tinggi lagi mulia…’aku ini siapa-lah’ kata orang.

Tapi setelah ku renungkan, otakku protes dan hatiku tergugah. Aku ini siapa? Apakah aku sudah cukup puas hanya menjadi orang yang bukan siapa2? Tidak adakah keinginan untuk berusaha menjadi orang yang luar biasa? “jangan berangan2 terlalu tinggi-lah, jangan berharap sesuatu yang tidak mungkin terjadi”sebuah bisikan melemahkan semangatku. Tapi kemudian aku teringat kata-kata abang seniorku, bang cholis (semoga Allah merahmatimu bang) ketika memberikan taujih kepada kami anak buahnya (ketika itu bang cholis masih sebagai ketua UKMI AL-FALAK). Beliau mengatakan dengan nada penekanan bahwa “JANGAN MAU MENJADI ORANG BIASA-BIASA SAJA!!”. Aku terdiam, aku berpikir. Jika aku sudah punya keinginan untuk menjadi manusia yang luar biasa, lalu amal apa yang harus aku perbuat agar keinginan itu tidak hanya sebatas mimpi, agar kemauan itu bisa terwujud??

Setiap orang pasti punya cita-cita tersendiri dan punya cara untuk dapat mewujudkannya. Begitu juga denganku. Aku punya cita2 tapi tidak pernah terpikir untuk menjadi orang yang luar biasa. Tapi setelah membaca tulisan di atas, aku jadi terobsesi untuk memiliki sesuatu yang dapat aku banggakan dan tentunya itu harus berupa amal kebaikan. Apaaaa gitu….

Oh, aku lupa kan Rasulullah saw pernah bersabda bahwa sebaik2 manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain? “Jadi, agar bisa menjadi luar biasa, aku harus memberikan banyak manfaat bagi orang disekitarku”Semangatku. Tapi kemudian aku ragu, Oke-lah aku bisa berbuat ini dan itu untuk kemashlatan banyak orang. Mungkin orang akan menilai bahwa aku hebat dan luar biasa. Tapi bagaimana dengan penilaian Tuhan terhadapku, terhadap amalku? Bukannya apa2, biasalah…kalau dalam beramal terkadang timbul dan terbersit keinginan untuk dipuji orang. Niatnya karena manusia bukan Karena DIA, sehingga sebesar apapun kebaikan yang kuperbuat menjadi sia-sia saja di hadapan-Nya, jadi kalau sudah begitu apakah aku akan dinilai hebat dan luar biasa dihadapan Sang Pemilik Alam? (padahal penilaian Dia-lah yang harus diprioritaskan!). Oh ya Robb, itu-lah yang terkadang sulit, menjaga keikhlasan itu memang sangat sulit!….

Oh ya Robb, Engkau Maha mengetahui siapa diri ini, diri ini bukan siapa2, hamba lemah dan bodoh, diri ini dhoif dan selalu lalai. Ya Robb, jika bukan karena RahmatMu aku tidak akan bisa apa2, aku tidak akan bermanfaat apa2 bagai seonggok mayat tanpa jiwa..Engkaulah yang telah memberi hamba kekuatan dan ilmu sehingga bisa berbuat banyak untuk orang lain., sehingga bisa beramal baik sebanyak2nya…Moga apa yang telah dilakukan niatnya hanya mengharapkan RidhoMu, hanya mengharapkan kemuliaan dariMu.

Ya Robb, jika dalam aktivitas amal hamba, Engkau menemukan hati ini ada keinginan untuk dipuji manusia, maka sesungguhnya itu bukan keinginan murni hati ini tapi itu adalah bisikan syetan yang lupa dan terlupakan untuk ditepis. Oleh karena itu hamba mohon ampun atas kesalahan dan kekhilafan itu….moga kedepan akan lebih baik lagi…Moga dihari nanti aku punya identitas, Moga dihari nanti aku bisa meraih apa yang aku obsesikan yaitu menjadi manusia yang luar biasa tidak hanya dimata manusia tapi yang lebih penting adalah dihadapanMu. Sehingga bila disuatu hari nanti aku membaca tulisan diatas dan di tanya KAMU SENDIRI SIAPA? maka aku bisa menjawabnya dengan mantap! amiin…..

Sobat-sobat multiply, jika kalian ditanya Kalian itu siapa? maka kalian akan jawab apa???

Ditulis dalam Dakwah. Leave a Comment »

Hari Kiamat dan Hisab

Berapa banyak yang sudah nampak di dunia ini ya?

Hari Kiamat dan Hisab

1. Seorang Arab Badui bertanya, “Kapankah tibanya kiamat?” Nabi Saw lalu menjawab, “Apabila amanah diabaikan maka tunggulah kiamat.” Orang itu bertanya lagi, “Bagaimana hilangnya amanat itu, ya Rasulullah?” Nabi Saw menjawab, “Apabila perkara (urusan) diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kiamat.” (HR. Bukhari)

2. Mendekati kiamat akan terjadi fitnah-fitnah seolah-olah kepingan-kepingan malam yang gelap-gulita. Seorang yang pagi hari beriman maka pada sore harinya menjadi kafir, dan orang yang pada sore harinya beriman maka pada pagi harinya menjadi kafir, dia menjual agamanya dengan (imbalan) harta-benda dunia. (HR. Abu Dawud)

3. Belum terjadi kiamat sehingga orang-orang dari umatku kembali menyembah berhala-berhala selain Allah. (HR. Abu Dawud)

4. Belum terjadi kiamat sebelum seorang yang melewati kuburan berkata, “Alangkah baiknya sekiranya aku di tempat orang ini.” (Maksudnya, dia ingin mati dan tidak ingin hidup karena beban berat yang selalu dihadapinya). (HR Bukhari)

5. Belum akan terjadi kiamat sehingga anak selalu menjengkelkan kedua orang tuanya, banjir di musim kemarau, kaum penjahat melimpah, orang-orang terhormat (mulia) menjadi langka, anak-anak muda berani menentang orang tua serta orang jahat dan hina berani melawan yang terhormat dan mulia. (HR. Asysyihaab).

6. Belum akan kiamat sehingga tidak ada lagi di muka bumi orang yang menyebut : “Allah, Allah.” (HR. Muslim)

7. Belum akan datang kiamat sehingga seorang membunuh tetangganya, saudaranya dan ayahnya. (HR. Bukhari)

8. Belum akan datang kiamat sehingga manusia berlomba-lomba membangun dan memperindah masjid-masjid. (HR. Abu Dawud)

9. Di antara tanda-tanda kiamat ialah ilmu terangkat, kebodohan menjadi dominan, arak menjadi minuman biasa, zina dilakukan terang-terangan, wanita berlipat banyak, dan laki-laki berkurang sehingga lima puluh orang wanita berbanding seorang pria. (HR. Bukhari)

10. Belum akan datang kiamat sehingga manusia berlomba-lomba dengan bangunan-bangunan yang megah. (HR. Bukhari)

11. Belum akan tiba kiamat sehingga merajalela ‘Alharju’. Para sahabat lalu bertanya, “Apa itu ‘Alharju’, ya Rasulullah?” Lalu beliau menjawab,”Pembunuhan… pembunuhan…” (HR. Ahmad)

12. Belum akan tiba kiamat melainkan matahari akan terbit dari Barat. Jika terbit dari Barat maka seluruh umat manusia akan beriman. Pada saat itu tidak bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia belum mengusahakan kebaikan dalam masa imannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

13. Belum akan tiba kiamat sehingga harta banyak dan melimpah, dan orang ke luar membawa zakat hartanya tetapi tidak ada yang mau menerimanya, dan negeri-negeri Arab kembali menjadi rerumputan hijau dengan sungai-sungai mengalir. (HR. Muslim)

14. Tibanya kiamat atas makhluk-makhluk yang jahat. (HR. Muslim)

Penjelasan:
Artinya : Saat kiamat tiba, tidak ada lagi orang yang beriman. Jadi yang ditimpa azab kiamat ialah orang-orang yang jahat.

15. Saat akan tiba kiamat, jaman saling mendekat. Satu tahun seperti sebulan, sebulan seperti seminggu, seminggu seperti sehari, sehari seperti satu jam dan satu jam seperti menyalakan kayu dengan api. (HR. Tirmidzi)

Penjelasan:
Jika kiamat tiba maka rotasi bumi makin cepat. Kalau rotasi sekarang 1000 mil per jam, maka dapat diperkirakan pada hari kiamat tujuh kali atau dua belas kali bahkan lebih.

16. Demi yang jiwa Muhammad dalam genggaman-Nya. Tiada tiba kiamat melainkan telah merata dan merajalela dengan terang-terangan segala perbuatan mesum dan keji, pemutusan hubungan kekeluargaan, beretika (berakhlak) buruk dengan tetangga, orang yang jujur (amanat) dituduh berkhianat, dan orang yang khianat diberi amanat (dipercaya). (HR. Al Hakim)

17. Belum akan tiba kiamat sehingga kaum muslimin berperang dengan orang-orang Yahudi. Kaum muslimin membunuh mereka dan mereka bersembunyi di balik batu dan pohon-pohonan. Lalu batu dan pohon-pohon berkata, “Wahai kaum muslimin, wahai hamba Allah, ini orang Yahudi di belakang saya. Mari bunuhlah dia.” Kecuali pohon “Gharqad” yang tumbuh di Baitil Maqdis. Itu adalah pohon orang-orang Yahudi. (HR. Ahmad)

18. Orang-orang ahli (Laailaaha illallah) tidak akan mengalami kesepian tatkala wafat, saat di kuburan dan ketika dibangkitkan. Seolah-olah aku melihat mereka ketika dibangkitkan (pada tiupan sangkakala yang kedua). Mereka sedang menyingkirkan tanah (pasir) dari kepala mereka seraya berkata, “Alhamdulillah, yang telah menghilangkan duka-cita dari kami.” (HR. Abu Ya’la)

19. Kamu akan dibangkitkan pada hari kiamat tanpa sandal, telanjang bulat dan tidak dikhitan. Aisyah bertanya, “Ya Rasulullah, laki-laki dan perempuan saling melihat (aurat) yang lain?” Nabi Saw menjawab, “Pada saat itu segala urusan sangat dahsyat sehingga orang tidak memperhatikan (mengindahkan) hal itu.” (Mutafaq’alaih)

20. Didatangkan kebaikan-kebaikan (pahala) dan kejahatan-kejahatan (dosa) seorang hamba, lalu saling mengikis dan bila masih tersisa kebaikan (pahala) itu Allah akan melapangkannya untuk masuk surga. (HR. Bukhari)

21. Seorang anak Adam sebelum menggerakkan kakinya pada hari kiamat akan ditanya tentang lima perkara: (1) Tentang umurnya, untuk apa dihabiskannya; (2) Tentang masa mudanya, apa yang telah dilakukannya; (3) Tentang hartanya, dari sumber mana dia peroleh dan (4) dalam hal apa dia membelanjakannya; (5) dan tentang ilmunya, mana yang dia amalkan. (HR. Ahmad)

22. Amal seseorang tidak dapat menyelamatkannya. Seorang sahabat lantas bertanya tentang sabda tersebut, “Termasuk engkau juga, ya Rasulullah?” Rasulullah lalu menjawab, “Ya, aku juga, kecuali dikarunia Allah dengan rahmat-Nya. Walaupun demikian kamu harus berbuat yang benar (baik).” (HR. Bukhari dan Muslim)

23. Yang pertama diadili antara manusia pada hari kiamat ialah kasus pembunuhan. (HR. Muslim)

Sumber: 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) – Dr. Muhammad Faiz Almath – Gema Insani Press

Sumber: opi.110mb.com/haditsweb

Referensi :
http://genenetto.blogspot.com/2010/04/hari-kiamat-dan-hisab.html

Ditulis dalam Dakwah. Leave a Comment »

In The Name Of Greater Israel

By Anait Brutian* | Sabbah Report | www.sabbah.biz

On February 2, 2010, the Israeli Knesset held the inaugural meeting of The Lobby for Greater Israel. According to Knesset members Arye Eldad (National Union), "This kind of lobby should have been unnecessary … We could have expected that after disengagement [from Gaza and parts of northern Samaria in 2005] all talk of creating a Palestinian state would have been taken off the table and that no one would try to get rid of settlements … Instead, we are once more hearing about a two-state solution and a [construction] freeze. I am certain that with this unity we can save the Land of Israel"(1). Made up of 39 Knesset members, out of which 12 from Netanyahu's Likud party and others from Shas, Israel Beiteinu, Habayit Hayehudi, the National Union, United Torah Judaism and Kadima, the lobby aims at acting as a "protective wall against any threat to the settlements"(2). Minister-without-portfolio Bennie Begin (Likud) went further than the official mission of the lobby, suggesting that the creation of a Palestinian state threatened Jewish security and rights to the Land of Israel(3). Yoav Sorek and Moriya Taassan, representing The Israeli Initiative, expressed a similar sentiment during the meeting: "We hope that this important lobby will grow to support Eretz Yisrael and help stop the discrimination against Israeli citizens living in Judea and Samaria"(4).


The claims of "discrimination against Israeli citizens living in Judea and Samaria" are unsubstantiated. Of course, there is discrimination, but it is aimed at Palestinians living under Israeli occupation. The charge of discrimination clarifies the mindset and the aims of The Israeli Initiative. The introductory statement of their website begins with the following declaration: "The ‘Palestinian State' solution has failed. For many years, Israel has repeatedly attempted to resolve the Arab-Israeli conflict and reach a state of peace and stability with the Palestinians, based primarily on the formula of ‘land for peace'… It is now quite clear that the concept of "the Palestinian State" has collapsed. If we desire peace, we must soberly examine the reality and understand where we went wrong. Now is the time to display creativity and advance towards peace along a different path"(5). And the "different path," beyond the fake humanitarian niceties, is based upon the "extension of Israeli sovereignty over Judea and Samaria, instead of handing over theses parts of the country for a Palestinian State"(6). In this context the declaration that "The Israeli Initiative is a plan for peace between Israel and its neighbours"(7) is a mockery if not an affront. One might consider the truth of the statement of Haaretz's Gideon Levy: "Israel is not asked ‘to give' anything to the Palestinians. It is only being asked to return – to return their stolen land and restore their trampled self-respect."(8).

Israel's proposed sovereignty over the entire region "from Jordan River to the Mediterranean" is justified as a means of preventing "Shiite penetration into the heart of the western region of the Middle East" and a guarantee to "Israel's existence as a Jewish State"(9). The statement cunningly hides the fact that these expansionist aspirations were part of the Zionist agenda long before the "Shiite penetration into the heart of the western region of the Middle East." The founder of the World Zionist Organization, Theodor Herzl wrote: "Spirit the penniless population across the frontier by denying it employment … Both the process of expropriation and the removal of the poor must be carried out discreetly and circumspectly" (Theodore Herzl, Complete Diaries, June 12, 1895 entry(10)). A similar sentiment was expressed by Joseph Weitz, head of the Jewish Agency for the Colonization Department who argued for "the need to sustain the character of the state which will henceforth be Jewish … with a non-Jewish minority limited to 15 percent." Weitz admitted reaching this fundamental position as early as 1940(11).

As for the worn-out claim that "Israel's existence as a Jewish State" is at stake, it was challenged by the statement of Israeli General Matityahu Peled, who openly admitted: "The thesis that the danger of genocide was hanging over us in June 1967 and that Israel was fighting for its physical existence is only bluff, which was born and developed after the war"(12). Gideon Levy referred to the period as "the time of big lies: lies about the great danger that lay at our doorstep – a danger that was bogus or inflated – and lies about the territories that were temporarily ‘liberated,' " to be used as bargaining chips for an ill-defined peace that "we may not have really been aiming for even then"(13). Israel's expansionism, cleverly disguised as self-defence, legitimized its aggression. To insure the support of its allies in the West, Israel chose the method of well-orchestrated provocations that induced a barrage of resistance from the Palestinians. The Second Intifada, sparked by Ariel Sharon's armed march to Jerusalem's Temple Mount in September 28, 2000, is a classic case. Not everyone was aware of the provocations and their true purpose. But even without this knowledge, the truth can be revealed through Ben-Gurion's plans of May 1948: "We should prepare to go over to the offensive. Our aim is to smash Lebanon, Trans-Jordan, and Syria. The weak point is Lebanon, for the Moslem regime is artificial and easy for us to undermine. We shall establish a Christian state there, and then we will smash the Arab Legion, eliminate Trans-Jordan; Syria will fall to us. We then bomb and move on and take Port Said, Alexandria and Sinai"(14).

During the same month of the same year, while outlining his infamous plan of conquest, David Ben-Gurion was also drafting the document called The Declaration of the Establishment of the State of Israel(15) – his name is the first among the signatories of the document, dated May 14, 1948. "The State of Israel will … foster the development of the country for the benefit of all its inhabitants; it will be based on freedom, justice and peace as envisaged by the prophets of Israel; it will ensure complete equality of social and political rights to all its inhabitants irrespective of religion, race or sex; it will guarantee freedom of religion, conscience, language, education and culture; it will safeguard the Holy Places of all religions; and it will be faithful to the principles of the Charter of the United Nations"(16). Among other "guarantees" of the Declaration are "equal citizenship and due representation in all its provisional and permanent institutions"(17). Even if we dismiss the experience of the past 61 years, the discrepancies between Ben-Gurion's statement of May 1948 and the Declaration of the Establishment of the State of Israel of May 14, 1948 clearly demonstrate that the founders of the State of Israel had a devious design from the start: a deliberate plan of deception that hides Israel's expansionist agenda in the region. In light of this disclosure their claims to "Judea and Samaria" come as no surprise: "Judea and Samaria form the geographical and historical heart of western Eretz Israel and there is no reason – moral, legal, demographic or geographic – to abandon those parts of the country that provide vital strategic depth and land reserves"(18). Ironically, the historical claims to the region popped into existence only after the decision to establish a Jewish homeland in Palestine. One may wonder what the claims would have been if another "Jewish homeland" – Argentina or East Africa (known as the Uganda Project) – had been chosen instead.

In the hands of the Zionists, history conveniently fits into the political agenda of the moment. The Israeli Initiative's claim on "Judea and Samaria" provides the pseudo-historical context for the expansionist aims of the State of Israel. The International Israel Allies Caucus Foundation's fist meeting at Washington, DC in May 2008 did not explicitly mention "Judea and Samaria" but aimed at the dismantling of UNRWA, considered an obstacle to the Israeli plans to "rehabilitate" the Palestinian refugees(19). The use of the word "rehabilitate" schemes not only to hide the true intention of relocating the entire Palestinian population "in a range of countries that welcome immigration"(20) but also downplays the inhuman nature of this proposal by presenting it as a "humanitarian solution," "the noblest gift to Palestinian society and to the world at large"(21). Interestingly enough, the Balfour Declaration of November 2, 1917 does not contain a word close in meaning to "relocation" or its newly hatched cognate "rehabilitation." "His Majesty's government view with favour the establishment in Palestine of a national home for the Jewish people, and will use their best endeavours to facilitate the achievement of this object, it being clearly understood that nothing shall be done which may prejudice the civil and religious rights of existing and non-Jewish communities in Palestine …"(22). Instead, it implies that there was a mutual agreement ("it being clearly understood") that "the civil and religious rights of existing and non-Jewish communities" would not be jeopardized. As with the Balfour Declaration, so too with The Declaration of the Establishment of the State of Israel ("equal citizenship and due representation in all its provisional and permanent institutions"(23)), written agreements bear no value, when one deals with the Zionists.

The distorted "history survey" in the Declaration provides a clear example of the cunning modus operandi designed for the benefit of the gullible Gentiles that supported the Declaration: "After being forcibly exiled from their land, the people kept faith with it through their Dispersion and never ceased to pray and hope for their return to it and for the restoration in it of their political freedom"(24). The exile mentioned in this document doesn't have a date. Which exile are they talking about? In 722 BCE King Shalmaneser V captured Samaria and the Israelites were deported to Assyria and dispersed throughout the vast empire. The Babylonian exile took place between 587 and 539 BCE and was accompanied by the destruction of the First Temple. The destruction of the Second Temple at 70 CE was NOT accompanied by a deportation. Thus the "forcible exile" mentioned in the Declaration is FALSE. It is ludicrous to assume that the signatories of this document did not know their own history. Just as it was convenient to hide their true intentions behind the efforts to dismantle UNRWA, so too, is the misrepresentation of history in this and other documents.

The Eretz Israel HaShlema, i.e., the whole or complete Land of Israel (Greater Israel in common parlance) could not be achieved without the eviction of the Palestinians by the settlers(25). The distorted history used by the Zionists serves them as a pretext for depopulating the Palestinian territories from their indigenous inhabitants and making room for the settlers. The movement Gush Emunim (Hebrew for "block of the faithful"), founded in 1974 by Rabbi Tzvi Yehuda Kook, the son of fundamentalist Rabbi Abraham Kook, promoted the slogan "The Land of Israel, for the people of Israel, according to the Torah of Israel"(26). The militant activities of this movement are not limited to rhetoric alone – their tactics include planting small Jewish groups in largely Arab communities, invoking their God-given right to the Land of Israel(27). Despite their belief that God created the world for the Jews and "holy wars" are acceptable to conquer it(28), similar to other Zionist projects, Gush Emunim never openly espoused violence. Yet, on April 27, 1984 the Israeli broadcasting service Kol Yisrael leaked a plot to blow up six Arab buses during rush hour. The group of Israeli suspects arrested in relation to the plot, were also responsible for the 1980 assassination attempts of Arab mayors in three West Bank cities, 1983 attacks on an Islamic College in Hebron and other acts of violence. Their plans also included an elaborate plot to blow up the Dome of the Rock in Jerusalem(29). The anti-Arab terrorist network, composed of "highly educated responsible men, some of whom were ranking army officers and all of whom were heads of large families," belonged to Gush Emunim, whose orthodox leaders, similar to the founders of the group, asserted a "biblically based Jewish claim to Judea and Samaria." Thus, while publicly preaching "peaceful and productive coexistence with the Arabs"(30), they endorse and sponsor terrorist activity in private in the name of God and Greater Israel. Gush Emunim's ideology, a toxic mix of Zionism and Messianic Judaism, is cleverly exported to the Christian world with a cunning message: "the advent of the Messiah would be delayed if the land were returned to non-Jews"(31). On a more mundane level, the campaign to undermine the suffering of the Palestinians continued with greater intensity (How American News Media Works (Analysis Report) (Part 1); How American News Media Works (Analysis Report) (Part 2); How American News Media Works (Analysis Report) (Part 3)), presenting Israel as a victim of constant terrorist attacks that affect the daily lives of its inhabitants and her economy (Israeli Propaganda to milk US Taxpayers).

In 1996 the Third International Christian Zionist Congress, held in Jerusalem, affirmed the belief of many, stating: "According to God's distribution of nations, the Land of Israel has been given to the Jewish People by God as an everlasting possession by an eternal covenant. The Jewish People have the absolute right to possess and dwell in the Land, including Judea, Samaria, Gaza and the Golan"(32). The new Middle East map with expandable Israeli boarders has been part of a Zionist scheme that allows the creation of Greater Israel at the expense of neighbouring Arab countries. Israel's intentions of fully controlling the West Bank and the Gaza strip are known. So is its intention of permanently keeping the Golan Heights of Syria and the southern Lebanon. What is not well known is Israel's appetite to expand to Iraq, most notably to parts of Iraq that have a large number of Kurdish Jews(33). The method is the same as before: buy land, relocate thousands of Jewish Kurds and outnumber the local population. As always, religion serves to legitimize this illegal venture. By showing particular interest in ancient cities mentioned in the Bible – Nahum in relation to al-Qush, Jonah in relation to Mosul, Daniel in relation to Kirkuk, Ezekiel in relation to al-Kifi near Najaf, Ezra in relation to al-Uzayr near Basra – Israel intends to claim Iraq's Shi'a-dominated territories as part of Greater Israel(34). No biblical scholar will take this claim seriously for the simple reason that these biblical prophets are not historical figures. For one thing, their lives, as described in the Bible, stretch for several hundreds of years. The book of Daniel is a classic example. A Maccabean production of later times, the writer of this text claims to have served such kings as Nebuchadnezzar (ca 634-562 BCE) (Dan 1:1-4:37), Belshazzar (555-538 BCE) (Dan 5:1-31), Darius (550-486 BCE) (Dan 6:1-28) and Cyrus (599 or 576-530 BCE) (Dan 6:28), while describing the events tied to the desecration of the Temple of Jerusalem in 168 BCE. Similarly, the principal character of Jonah is an obscure Galilean prophet, who presumably counseled Jeroboam II (788-747 BCE) (2Kings 14:25). In the book of Jonah this prophet, a simpleton who can't even decide whether he was swallowed by a male or a female fish (Hebrew is a genders-specific language), is asked to go to Nineveh, the capital of Assyria and proclaim against it. The problem is that Nineveh did not become the Assyrian capital until the reign of Sennacherib (ca. 704-681). Perhaps, these scholarly questions don't bear any significance for the Christian Zionists, who take the biblical narratives literally, as the word of God, or for the former CIA chief William Casey, who didn't know the difference between the right-wing Opus Dei and the Muslim Brotherhood.

The ultimate aim of the Zionists, as always, is the same: depopulate the area, colonize it and get their dirty hands on the rich natural resources of the region. The official story in the Western Media is all about "Muslim Terrorists." No one knows the truth about the fact that Mossad is heavily involved in many insurgencies. No one knows that the Israeli and the Christian Zionist mercenaries stage terrorist attacks against indigenous populations in Iraq with an explicit goal: to depopulate the area and make room for Israeli expansionism(35). As usual, the attacks by the Israelis and their allies are reported as being the work of Al Qaeda or other Islamic Jihadists(36). In reality, with its voracious appetite for more land grabs, Israel is the most dangerous state in the world today. But because of the Zionist-controlled Western Media, the truth is well hidden and the tragedy of Palestine now repeats in Iraq – all in the name of Greater Israel.

References:
(1), (2), (3) http://www.jpost.com/Israel/Article.aspx?id=167656
(4) http://theisraelinitiative.blogspot.com/2010/02/lobby-for-greater-israel.html

(5), (6) http://www.israelinitiative.com/rewr-true/language-en_us/Introduction.aspx
(7) http://theisraelinitiative.blogspot.com/2010/02/lobby-for-greater-israel.html
(8) http://www.inthesetimes.com/article/4755/israels_gadfly/
(9) http://www.israelinitiative.com/rewr-true/language-en_us/Introduction.aspx
(10), (11) http://newsgroups.derkeiler.com/
(12) http://www.al-awda.org/quotes.html

(13) http://www.inthesetimes.com/article/4755/israels_gadfly/
(14) http://newsgroups.derkeiler.com/
(15), (16), (17) http://www.mfa.gov.il/MFA/Peace+Process/Guide+to+the+Peace+Process/Declaration+of+Establishment+of+State+of+Israel.htm
(18) http://www.israelinitiative.com/rewr-true/language-en_us/Introduction.aspx
(19) http://www.youtube.com/watch?v=Y4c7S99Qzvk
(20), (21) http://www.israelinitiative.com/rewr-true/language-en_us/Principle-4/PrinciplesSub.aspx

(22) http://www.mfa.gov.il/MFA/Peace%20Process/Guide%20to%20the%20Peace%20Process/The%20Balfour%20Declaration
(23), (24) http://www.mfa.gov.il/MFA/Peace+Process/Guide+to+the+Peace+Process/Declaration+of+Establishment+of+State+of+Israel.htm
(25) http://www.globalsecurity.org/military/world/israel/greater-israel.htm
(26) http://weekly.ahram.org.eg/2009/961/focus.htm
(27) http://www.britannica.com/EBchecked/topic/755673/Gush-Emunim
(28) http://weekly.ahram.org.eg/2009/961/focus.htm

(29), (30) http://members.tripod.com/alabasters_archive/zionist_fundamentalism.html
(31) http://www.globalsecurity.org/military/world/israel/greater-israel.htm
(32) http://www.christianzionism.org/BibleSays/Sizer04.pdf
(33), (34), (35), (36) http://onlinejournal.com/artman/publish/article_4301.shtml

* Anait Brutian (B. Mus. with Honours in Theory, McGill University; M. A. in Music Theory, McGill University) is a student in the Faculty of Religious Studies at McGill. Her previous research includes a self-published book entitled: Reconciling Geometry, Rhetoric and Harmony: A Fresh Look at C. P. E. Bach. She is currently working on another book on mathematical paradigms in literature (Old and New Testaments), art, architecture, and music. She can be contacted at anaitbrutian@videotron.ca

Ditulis dalam Dakwah. Leave a Comment »